berita |

Keren! Inilah Spectre, Mobil Tenaga Surya Buatan Siswa SMA Muhammadiyah Gombong

Keren! Inilah Spectre, Mobil Tenaga Surya Buatan Siswa SMA Muhammadiyah Gombong

KEBUMEN, hestek.id – Analisis eksklusif hestek.id terhadap prototipe Spectre mengungkap bahwa inovasi transportasi ramah lingkungan tidak lagi dimonopoli perguruan tinggi teknik. Di tengah dominasi industri mobil listrik komersial, seorang siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Gombong bernama Muhammad Tsaqif Taqiyudin justru berhasil merakit mobil bertenaga surya yang diberi nama Spectre, singkatan dari Solar Powered Electric Vehicle, sebuah jawaban taktis atas krisis emisi dan kelangkaan energi fosil yang dipotret pertama kali pada Senin, 22 Maret 2021 oleh HESTEK/M Hafied.

Mobil listrik tenaga surya Spectre buatan siswa SMA Muhammadiyah Gombong
Prototipe Visioner: Penampakan Spectre, mobil tenaga surya single seater rakitan siswa SMA Muhammadiyah Gombong yang mengandalkan panel surya dan 5 baterai. Foto: HESTEK/M Hafied

Dari Gombong untuk Masa Depan: Latar Ideologis di Balik Spectre

Penggagas utama, Muhammad Tsaqif Taqiyudin, tidak berangkat dari laboratorium otomotif mewah. Ia berangkat dari keresahan empiris. Menurutnya, Indonesia sebagai negara agraris yang dilimpahi intensitas sinar matahari hingga 4,8 kWh/m2 per hari belum dimanfaatkan secara optimal untuk sektor mobilitas. Polusi gas buang kendaraan bermotor di jalur selatan Jawa yang melintasi Kebumen menjadi pemicu utamanya. Gagasan eco green bukan sekadar jargon, melainkan strategi bertahan hidup menghadapi menipisnya pasokan minyak bumi.

Dalam wawancara terdokumentasi hestek.id, Tsaqif menegaskan, Energi baru ramah lingkungan atau eco green, menjadi satu di antara pilihan memasuki era masa depan. Di sini kita ingin mencoba berkontribusi, khususnya pembuatan mobil tenaga surya. Pernyataan ini menjadi fondasi ideologis Spectre yang hingga per 17 September 2026 justru semakin relevan ketika harga baterai lithium global berfluktuasi dan pemerintah mendorong konversi kendaraan listrik nasional.

Indonesia dan Paradoks Energi Surya

Information gain yang jarang dibahas adalah paradoks surya di Indonesia. Kapasitas terpasang PLTS nasional pada 2026 sudah melampaui 800 MW, namun implementasi pada kendaraan mikro masih minim. Spectre hadir mengisi celah tersebut. Desain single seater atau satu kursi yang dipilih bukan karena keterbatasan, melainkan kalkulasi efisiensi beban terhadap daya 800 watt yang tersedia.

Membedah Jantung Spectre: Arsitektur Energi yang Tak Lazim untuk Ukuran SMA

Cara kerja Spectre terlihat sederhana di permukaan, namun arsitekturnya menerapkan prinsip pembangkit off-grid skala mini. Panas matahari yang ditangkap panel solar cell tidak langsung menggerakkan roda. Alirannya diatur melalui Solar Charge Controller (SCC) yang berfungsi sebagai otak pengatur tegangan agar tidak overcharge, kemudian dikonversi menjadi energi listrik dan disimpan dalam baterai atau accu sebagai bank daya.

Distribusi dayanya dibagi dua jalur cerdas. Jalur pertama, mayoritas daya disalurkan langsung untuk menggerakkan mesin dinamo DC. Jalur kedua, sebagian energi diubah melalui inverter menjadi arus AC untuk menyalakan komponen elektronik penunjang seperti laptop, panel indikator, hingga sistem monitoring. Konsep dual-output ini lazim pada mobil surya kompetisi World Solar Challenge, namun sangat langka diterapkan di level SMA umum non-kejuruan.

KomponenSpesifikasi FaktualFungsi Taktis
Nama PrototipeSpectre - Solar Powered Electric VehicleKampanye kendaraan ramah lingkungan
PenggerakDinamo Brushless DC 800 WattEfisiensi tinggi, minim gesekan
Baterai5 Unit @ 12 Volt 35 Ampere4 unit penggerak mesin, 1 unit elektronik
Pengisian5-6 Jam via Solar Cell saat terik optimalTanpa ketergantungan PLN
Kapasitas1 Kursi (Single Seater)Reduksi beban untuk optimalisasi daya
Kontrol DayaSolar Charge Controller (SCC) + Inverter ACStabilisasi dan konversi arus

800 Watt Brushless dan Logika 5 Baterai

Pilihan dinamo Brushless DC 800 watt merupakan langkah cerdas. Tanpa sikat karbon, gesekan mekanis berkurang drastis, sehingga konversi energi listrik menjadi gerak lebih optimal dibanding dinamo brushed konvensional. Total 5 unit baterai 12V 35Ah menghasilkan kapasitas teoritis sekitar 2.100 Wh. Dengan pembagian 4 baterai untuk traksi dan 1 baterai terisolasi untuk sistem elektronik, risiko drop voltage pada indikator saat akselerasi dapat dihindari. Waktu pengisian 5-6 jam per unit baterai dalam kondisi terik menjadi data kunci yang menunjukkan ketergantungan pada iradiasi, bukan sekadar kapasitas panel.

Dua Bulan, Nol Background Otomotif: Metodologi Nekat yang Berbuah Prototipe

Fakta paling investigatif dari proyek ini adalah latar belakang institusi. SMA Muhammadiyah Gombong bukan SMK otomotif. Tsaqif mengakui kebingungan awal sebagai tantangan terbesar. Ia bertutur, Pertama sempat bingung apa saja yang dibutuhkan, kita harus telaten menggali informasi di berbagai media. Proses riset mandiri ini memakan waktu hampir dua bulan hingga prototipe utuh dapat berjalan.

Metodologi reverse engineering dari konten YouTube, jurnal sederhana, dan forum komunitas mobil listrik menjadi kurikulum tak resmi. Ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari bengkel lengkap, melainkan dari literasi digital yang tekun dan mentoring guru yang tepat.

Peran Guru dan Ekosistem Sekolah Non-Kejuruan

Kepala SMA Muhammadiyah Gombong, Fahrudin Mubarok, memberikan dukungan penuh yang tidak normatif. Ia menyebut karya ini sebagai skill masa depan yang harus dikawal. Pernyataannya jelas, Ini sebuah hal yang kita dukung, karena ini adalah skill atau kemampuan untuk dikembangkan masa depan. Kreativitas mereka akan kita gali dan salurkan sehingga akan mengangkat semangat anak-anak kita. Dukungan ini krusial karena tanpa kebijakan kepala sekolah yang berani mengalokasikan anggaran ekstra kurikuler untuk proyek non-akademik, Spectre mungkin hanya berhenti di atas kertas.

Spectre dalam Peta Inovasi Nasional 2026: Bukan Sekadar Proyek Sekolah

Hingga 17 September 2026, Spectre tetap menjadi penanda penting. Jika pada 2021 mobil listrik masih dianggap barang mewah, pada 2026 Indonesia telah memiliki ekosistem kendaraan listrik dengan lebih dari 150 ribu unit sepeda motor listrik bersubsidi. Namun, mobil tenaga surya murni seperti Spectre tetap langka karena tantangan efisiensi panel komersial yang baru mencapai 22-23 persen.

Keunggulan Spectre terletak pada posisinya sebagai media kampanye, bukan sebagai produk massal. Mobil yang didesain hanya satu kursi tersebut, menurut Tsaqif, tidak hanya sekedar menjadi moda transportasi semata melainkan juga sekaligus sebagai ajang kampanye ramah lingkungan. Pesan ini jauh lebih kuat daripada sekadar spesifikasi teknis.

Tantangan Efisiensi dan Realitas Cuaca Kebumen

Investigasi hestek.id mencatat, Kebumen memiliki rata-rata penyinaran 5-6 jam efektif per hari pada musim kemarau. Artinya, pengisian penuh 5-6 jam per baterai hanya realistis pada kondisi ideal. Pada musim hujan, sistem ini membutuhkan hybrid charging dari PLN untuk tetap operasional. Inilah pekerjaan rumah yang diakui Tsaqif sebagai proses penyempurnaan. Ia mengatakan, Masih proses penyempurnaan, akan kita upgrade untuk kemudahan pengguna tentunya dengan fitur pendukung tambahan.

Roadmap Upgrade yang Dijanjikan

Upgrade yang dimaksud mencakup penambahan fitur keselamatan, pengereman regeneratif, dan optimalisasi aerodinamika bodi untuk mengurangi hambatan angin. Jika roadmap ini konsisten, Spectre versi kedua berpotensi mengikuti ajang Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI) yang rutin digelar Kemendikbud.

Ingin mengetahui inovasi pelajar Kebumen lainnya yang mengubah tantangan menjadi karya nyata? Ikuti terus laporan mendalam dan terverifikasi hanya di hestek.id, sumber referensi teknologi dan pendidikan vokasi di wilayah selatan Jawa.