hestek.id - Di tengah pembatasan mobilitas akibat pandemi Covid-19, warga Kabupaten Banjarnegara membuktikan keterbatasan bisa menjadi pemicu kreativitas. Beberapa orang menyulap sampah plastik dan komponen elektronik bekas menjadi BIH Infrared Handsoap, sebuah dispenser sabun yang mengeluarkan buih tanpa disentuh tangan. Inovasi sederhana ini dibuat oleh lima orang, yaitu Akbar, Della, Dodi, Harry, dan Agus Ujianto sebagai pembina sekaligus inisiator.

Limbah Plastik Dan Elektronik Disulap Jadi Alat Higienis
Material utama berasal dari botol plastik bekas, wadah sabun cair rumah tangga, dan modul sensor infrared yang diambil dari perangkat elektronik rusak. Rangka dirakit menggunakan lem, potongan akrilik sisa, dan pompa mini dari mainan bekas. Hasilnya bukan kerajinan pajangan, melainkan perangkat fungsional yang mampu mendeteksi keberadaan tangan dalam jarak dekat. Ketika sensor menangkap gerakan, rangkaian elektronik memicu pompa untuk mendorong sabun cair menjadi busa lembut.
Mekanisme tanpa sentuh menjadi nilai jual paling relevan di masa pandemi. Pengguna tidak perlu menekan tombol atau tuas yang berpotensi menjadi media penularan. Cukup mendekatkan telapak tangan di bawah nozzle, buih sabun keluar dengan takaran yang sudah diatur. Desain higienis ini sangat membantu di fasilitas umum seperti mushola, sekolah, atau warung makan. Daya yang dibutuhkan kecil, bisa memakai baterai bekas power bank atau adaptor charger ponsel lama, sehingga operasional hampir tanpa biaya.
Menurut Agus Ujianto, waktu pengerjaan dari ide awal hingga alat siap digunakan sekitar satu bulan. Proses tersebut meliputi pengumpulan limbah, pembersihan, perakitan sensor, uji coba pompa, hingga kalibrasi viskositas sabun. Tenggat satu bulan terasa singkat mengingat semua komponen didapat dari barang bekas dan harus disesuaikan satu per satu. Tim melakukan trial error berulang agar semburan busa tidak terlalu deras atau justru tersumbat.
Lima Kreator Di Balik BIH Infrared Handsoap
Kelima kreator memiliki peran berbeda. Akbar fokus pada rangkaian kabel dan penyambungan pompa, Della memilah plastik yang masih kokoh dan membersihkannya, Dodi dan Harry membongkar perangkat elektronik bekas untuk mengambil sensor infrared dan transistor, sedangkan Agus merancang dudukan serta melakukan finishing. Pembagian tugas ini membuat pekerjaan lebih cepat meski tanpa bengkel memadai. Mereka bekerja di teras rumah dengan peralatan solder sederhana dan perkakas tukang biasa.
Kesulitan teknis muncul pada pengaturan jarak sensor dan konsistensi busa. Sensor infrared bekas terkadang terlalu sensitif terhadap cahaya, sehingga sabun keluar sendiri saat terkena sinar matahari langsung. Solusinya, posisi sensor sedikit dimiringkan dan diberi pelindung dari potongan plastik hitam. Kalibrasi manual dilakukan dengan memutar trimpot untuk menyesuaikan sensitivitas. Untuk busa, tim mencampur sabun cair dengan sedikit air agar lebih ringan dan tidak membebani pompa mini.
Dibanding produk pabrikan yang dibanderol ratusan ribu rupiah, versi Banjarnegara ini nyaris tanpa modal material. Biaya hanya keluar untuk lem dan sedikit kabel. Perawatan juga mudah, karena suku cadang bisa diambil dari remote televisi rusak atau mobil-mobilan anak. perawatan kulit sehat alami saja membutuhkan kebiasaan bersih, apalagi pencegahan penularan. Keunggulan reparasi inilah yang membuat alat cocok untuk lingkungan desa yang jauh dari toko elektronik.
Konteks Pandemi Dan Urgensi Cuci Tangan Tanpa Sentuh
BANJARNEGARA, hestek.id mencatat inovasi ini muncul pada 18 Juni 2021, saat kesadaran cuci tangan sedang tinggi. Protokol kesehatan mewajibkan setiap orang mencuci tangan sebelum masuk ruangan, tapi banyak tempat masih menyediakan sabun colek atau botol pump yang disentuh bergantian. Kehadiran dispenser otomatis menjawab kebutuhan tersebut secara praktis. Momen pandemi memaksa warga berpikir kreatif karena akses barang baru terbatas dan harga kebutuhan naik.
Relevansi teknologi tanpa sentuh semakin terasa bila melihat kasus penularan di fasilitas umum. risiko penularan tetap ada meski sudah vaksin menunjukkan protokol kebersihan tidak boleh kendor. Perangkat seperti BIH membantu memutus rantai kontak tidak langsung. Kesadaran kolektif tentang kebersihan tangan yang dibangun lewat alat sederhana ini justru lebih tahan lama dibanding imbauan spanduk semata.
Ekonomi Sirkular Dan Potensi Adopsi Di Desa
Dari kacamata lingkungan, proyek ini adalah contoh nyata ekonomi sirkular di tingkat kampung. Sampah plastik yang biasanya berakhir di sungai atau dibakar, kini memiliki fungsi baru sebagai wadah sabun. Komponen elektronik yang tadinya menjadi limbah B3 ringan bisa dipakai kembali. Nilai sirkular tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah, tapi juga memberi edukasi kepada anak muda tentang pemilahan limbah dan kreativitas teknis.
Potensi replikasi sangat besar. Karang taruna bisa dilatih membuat puluhan unit untuk dibagikan ke masjid, posyandu, dan sekolah dasar. Modal sosial gotong royong yang kuat di Banjarnegara memudahkan penyebaran pengetahuan. Semangat solidaritas semacam ini juga terlihat pada aksi sosial warga Kebumen berbagi beras di masa sulit yang menunjukkan kepedulian komunitas tetap hidup saat krisis. Dampak sosial dari dispenser bekas ini bisa melampaui fungsi teknisnya, menjadi simbol kemandirian warga.
Prospek Pengembangan Dan Edukasi Maker
Ke depan, desain BIH masih bisa disempurnakan. Penambahan indikator level sabun dari botol transparan, penggunaan panel surya kecil untuk mengisi baterai, atau penambahan timer agar pompa tidak aktif terus-menerus saat sensor tertutup debu. Bahkan versi lanjutan bisa memakai mikrokontroler ESP32 bekas untuk mencatat jumlah penggunaan harian. Peningkatan iteratif semacam itu tidak harus mahal, cukup memanfaatkan barang bekas lain yang tersedia di sekitar.
Dari sisi edukasi, proyek ini bisa menjadi modul praktik bagi siswa SMK jurusan elektronika. Mereka belajar tentang sensor, relay, pompa, dan logika kontrol tanpa harus membeli kit impor. Guru bisa mengajak siswa mengumpulkan sampah plastik dari rumah masing-masing, lalu merakit dispenser untuk dipakai di sekolah. Pembelajaran kontekstual ini membuat pelajaran produktif lebih hidup dan relevan dengan masalah nyata di lingkungan.
Analisis redaksi hestek.id menilai kekuatan utama inovasi Banjarnegara terletak pada keberanian memulai dengan apa yang ada. Tidak menunggu bantuan dana besar, tidak menunggu komponen baru. Ketika banyak daerah mengeluhkan keterbatasan, lima warga ini justru mengubah keterbatasan menjadi keunggulan. Semangat maker tersebut perlu didukung dengan dokumentasi terbuka, video tutorial sederhana, dan ruang pamer di balai desa agar ide tidak berhenti pada satu prototipe saja.
Ikuti terus kisah inovasi lokal, teknologi tepat guna, dan kreativitas warga yang mengubah sampah jadi solusi hanya di hestek.id untuk mendapatkan inspirasi praktis yang bisa Anda coba di rumah.
- ➝ Curi ‘Daleman’ Anak Gadis Kepala Desa, Bocah SMP di Kebumen Dihukum Bersihkan Masjid Selama 3 Bulan
- ➝ Wahai Ibu yang Membuang Anaknya di Sokaraja, Kalau Sudah Siap, Jemput Bayimu di Rumah Kapolsek Kalibagor
- ➝ Cara Menggunakan Google Search Console Cek Error Mobile: Panduan Lengkap Optimasi Website Anda